PPID Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan

Kementerian Pertanian Republik Indonesia

PPID Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan

Nikmatnya Olahan Kangkung Menjadi Dendeng Dorong Ketahanan Pangan Lokal




 Mendengar kata dendeng, maka imajinasi yang terlintas mungkin akan membayangkan menu sajian dendeng balado yang terbuat dari daging sapi dan berbalut cabai merah. Berdasarkan jenis olahannya, ada empat jenis dendeng yaitu dendeng balado, dendeng batokok, dendeng lambok dan dendeng baracik. Keempatnya menawarkan daging yang terasa gurih dan bumbu balado yang pedas.

Dendeng adalah masakan khas Sumatera Barat, berupa daging yang dipotong tipis menjadi serpihan yang lemaknya dipangkas, dibumbui dengan saus asam, asin atau manis dengan dikeringkan dengan api kecil atau diasinkan dan dijemur. Hasilnya adalah daging yang asin dan setengah manis dan tidak perlu disimpan di lemari es, dan bisa diawetkan.

Kali ini kita membahas dendeng kangkung. Jika mendengar nama dendeng kangkung, pasti bahan yang digunakan adalah sayur kangkong. Lalu kok bisa kangkung dibuat menjadi denden? Itulah salah satu celetukan dari para peserta Pelatihan Pengolahan dan Pengemasan Dendeng Kangkung di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar. Kegiatan pelatihan ini diselenggarakan oleh Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Blitar, yang diikuti oleh 30 orang dari Kelompok Wanita Tani Anggrek Putih di Kota Blitar.

Beberapa metodologi telah dilakukan dan telah diamati hasilnya bahwa teknologi spesifik lokasi sangat berperan penting untuk terus dikembangkan. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari dan dilatih oleh Widyaiswara Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Rivana Agustin.

Ditengah isu krisis pangan yang melanda dunia, saat ini kita dituntut untuk selalu berinovasi ditengah keterbatasan akibat pasca pembatasan sosial covid-19, perang antara Ukraina dan Rusia, serta climate change.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) dalam arahannya menyampaikan bahwa perencanaan pembangunan pertanian tahun 2023 harus inovatif dan adatif. Pasalnya, di tengah tantangan pangan dunia saat ini dibutuhkan gebrakan program sebagai langkah antisipasi melalui penyiapan strategi yang tepat sehingga kedepan pangan nasional bisa disiapkan secara mandiri.

Pangan Nasional dapat tercapai dengan adanya beberapa unsur yang terkait, salah satunya adanya faktor sumber daya manusia. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian terus menjaga agar produksi pangan di dalam negeri tetap terjaga. Berbagai upaya digerakkan pemerintah, bukan hanya mengembangkan modernisasi pertanian melalui inovasi terbaru, tapi juga menggerakkan sumber daya manusia (SDM) pertanian.

Sementara itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, mengatakan, faktor SDM tak bisa diabaikan dalam peningkatan produksi pangan. Bahkan dari hasil riset ternyata SDM mempunyai peran hampir 50 persen.

“Sesungguhnya yang mampu meningkatan poroduksi, bukan hanya inovasi, bukan hanya prasarana dan sarana, tapi SDM berperan jauh lebih besar dari inovasi teknologi,” kata Dedi Nursyamsi.

Sebagai widyaiswara yang melatih pada kegiatan Pelatihan Pengolahan dan Pengemasan Dendeng Kangkung, Rivana Agustin menuturkan, pengembangan SDM pertanian sangat penting dilakukan.

“Tujuan dari pelatihan ini adalah sebagai media dalam peningkatan kapasitas hilirisasi para kelompok wanita tani anggrek putih pada komoditas kangkung di wilayah Kota Blitar. Adanya pelatihan diharpak semua peserta dapat menjadi wirausahawan yang handal, kreatif, produktif dan inovatif sehingga nantinya dapat mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan,”tutur Rivana. YNI/RVN

Telah terbit di: https://www.swadayaonline.com/